MERAWAT LUKA BATIN ANAK
Makassar, 8 Juli 2017
Fenomena anak malas bicara dengan orangtua, adiksi game online, dan kehilangan motivasi belajar makin umum kita jumpai. 
Lewat seminar ini kita belajar mendeteksi luka batin (trauma) anak dan membangun ulang ikatan batin yang hilang. Bagaimana membantu anak berdamai dengan dirinya, Orangtua dan Tuhan. Memilih komunitas yang sehat dan menyembuhkan.
Selain ada sesi gabungan, ANAK REMAJA (usia 13-19 tahun) akan mendapatkan pendampingan khusus oleh konselor LK3 yang berpengalaman di bidang trauma healing.

Sebagai tindak lanjut pertemuan dan pembinaan tahun 2016 lalu, dan dengan beberapa pertimbangan khusus, kami telah menyeleksi dari para alumni dengan beberapa pertimbangan. Kami  memilih Saudara menjadi Tim Trainer dan menjadi tenaga representatif lembaga LK3 di Kota dimana saudara berada. Kami akan memberikan sertifikat LK3 REGIONAL CERTIFICATION pada acara penutupan LK3 Speakers Forum.  Acara akan diadakan dalam dua gelombang (silahkan memilih satu dari waktu yang ada):

Membiarkan hati anak terluka, dan tidak melakukan tindakan yang luar biasa untuk memulihkan jiwa mereka, adalah suatu kelalaian yang sulit dipahami.

Umumnya anak yang dibesarkan orangtua yang penuh konflik menyimpan luka yang berat. Apalagi terjadi saat mereka kecil.

Sifat otoriter Orangtua, egois dan membedakan anak, menoreh banyak luka dalam jiwa anak. Permintaan maaf Anda yang telat pun terasa basi, dan hanya menambah rasa sakit hati.

Lakukanlah sesuatu sebelum semuanya terlambat. Sebelum "nanah luka" anak Anda berubah menjadi "kanker emosi" yang sulit diobati. Anak mendadak menjadi mudah stres, gampang marah, kecewa, cengeng dan keras kepala. Kelak luka emosi ini ikut mempengaruhi karier & pernikahan mereka. Juga hubungan mereka dengan Anda.

Kesibukan kini berubah seolah menjadi candu dan monster yang menakutkan. Menjadi sumber konflik, kesepian, affair dan perpisahan keluarga. Tanpa sadar sebagian Pendeta, majelis dan aktifis gereja kehilangan keseimbangan hidup, mengabaikan pernikahan demi pelayanan.

Lewat seminar ini peserta belajar bagaimana membangun ulang sistem keluarga dan memulihkan kebiasaan keluarga asal. Belajar cara "melahirkan kembali" cinta yang sudah mati dan secara sadar mewariskan sistem keluarga yang sehat kepada anak-cucu.

Jika sistem keluarga sehat dan bergungsi maka anggota keluarga akan merasa nyaman tinggal bersama, bangga dan saling merindukan.

Back to top